Keberhasilan pembelajaran pendidikan keaksaraan sangat besar dipengaruhi oleh bentuk evaluasi yang digunakan dalam mengukur capaian kemampuan keaksaraan warga belajar. Hasil pembelajaran pada pendidikan keaksaraan selama ini terlihat pada suatu bentuk legalitas keberaksaraan, yaitu diberikannya Surat Keterangan Melek Aksara (SUKMA) kepada warga belajar. Disadari atau tidak, bentuk evaluasi yang dilakukan cukup memberikan pengaruh terhadap capaian keberhasilan program pendidikan keaksaraan.
Tampilkan postingan dengan label Pokja PAUD dan KF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pokja PAUD dan KF. Tampilkan semua postingan
Strategi mendidik anak
1. Pelajari tahap-tahap perkembangan anak
Usia 0-2 tahun adalah tahap sensorimotor (merasakan dunia melalui gerak dan indera, dan mempelajari keberadaan objek). Usia 2-7 tahun adalah tahap pra-operasional (mulai memiliki kecepatan motorik). Usia 7-11 tahun adalah tahap operasional konkret (mulai berpikir logis tentang kejadian-kejadian nyata).Di atas 11 tahun adalah tahap operasional formal (mulai mengembangkan penalaran abstrak).
2. Stimulasi anak sesuai kebutuhan
Anak usia prsekolah sampai usia SD awal mulai memiliki kecakapan motorik. Maka senang dengan melibatkan motorik kasar dan motorik halus. Anak usia 7-11 tahun mulai berpikir logis. mereka senang dengan belajar:mengamati alam sekitar,membuat percobaan untuk melihat sebab akibat dll. Anak usia 11 tahun ke atas mulai berpikir abstrak dan senang belajar dengan diskusi.
3. Respon setiap pertanyaan anak
Jangan matikan rasa ingin tahu anak dengan mengabaikan pertanyaan mereka. Pertanyaan adalah salah satu tanda adanya rasa ingin tahu.
4. Apresiasi proses belajar anak
Apapun yang dilakukan anak terutama anak prasekolah yang masih dalam proses belajar berikanlah penilaian positif.
5. Jadilah teman diskusi yang baik
Semakin besar usia anak berusahalah menjadi teman diskusi yang baik.
6. Biasakanlah anak belajar di rumah secara teratur.
yaitu belajar pada jam yang tepat setiap hari. Saat belajar, minimal anak mengulang pelajaran di sekolah dan melihat jadwal pelajaran besok. Pembiasaan belajar hendaknya tidak dilakukan secara drastis dan mendadak jika anak belum punya kebiasaan belajar.
7. Samakan kecenderungan metode belajar di rumah dan di sekolah
Orang tua perlu menjamin kekompakan dalam pola asuh. Ini memudahkan untuk menetapkan metode belajar tertentu untuk anak (sesuai kecenderungan anak).
Anak usia prsekolah sampai usia SD awal mulai memiliki kecakapan motorik. Maka senang dengan melibatkan motorik kasar dan motorik halus. Anak usia 7-11 tahun mulai berpikir logis. mereka senang dengan belajar:mengamati alam sekitar,membuat percobaan untuk melihat sebab akibat dll. Anak usia 11 tahun ke atas mulai berpikir abstrak dan senang belajar dengan diskusi.
3. Respon setiap pertanyaan anak
Jangan matikan rasa ingin tahu anak dengan mengabaikan pertanyaan mereka. Pertanyaan adalah salah satu tanda adanya rasa ingin tahu.
4. Apresiasi proses belajar anak
Apapun yang dilakukan anak terutama anak prasekolah yang masih dalam proses belajar berikanlah penilaian positif.
5. Jadilah teman diskusi yang baik
Semakin besar usia anak berusahalah menjadi teman diskusi yang baik.
6. Biasakanlah anak belajar di rumah secara teratur.
yaitu belajar pada jam yang tepat setiap hari. Saat belajar, minimal anak mengulang pelajaran di sekolah dan melihat jadwal pelajaran besok. Pembiasaan belajar hendaknya tidak dilakukan secara drastis dan mendadak jika anak belum punya kebiasaan belajar.
7. Samakan kecenderungan metode belajar di rumah dan di sekolah
Orang tua perlu menjamin kekompakan dalam pola asuh. Ini memudahkan untuk menetapkan metode belajar tertentu untuk anak (sesuai kecenderungan anak).
sumber ; http://tokomainananak.com/artikel/7-kiat-menumbuhkan-semangat-belajar-anak-di-rumah.html
sumber gambar; http://khalidabdullah.com/keluarga/mendidik-anak-cerdas/
Diposting oleh; Hasruddin, S.Pdsumber gambar; http://khalidabdullah.com/keluarga/mendidik-anak-cerdas/
Penamatan Anak Didik "PAUD Anak Bangsa"
Kamis, 10 Juni 2010 PAUD Lembaga PAUD Anak Bangsa yang merupakan program PNF yang diselenggarakan oleh UPTD SKB Kota Palopo melaksanakan penamatan peserta didik yang akan masuk ke tingkat sekolah Dasar (SD) dan telah dinyatakan lulus. Penamatan ini dilakukan setelah selama satu tahun mengikuti pembelajarn pada Kelompok Bermain ini. Peserta didik yang telah dinyatakan tamat sebanyak 23 orang dengan rata-rata usia 6 tahun lebih. Acara penamatan ini dilakukan secara resmi di gedung pertemuan Kelurahan Salubattang yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Palopo yang diwakili oleh Kasi PAUD dan KF, Kepala UPTD SKB Kota Palopo, Lurah Salubattang, Pamong Belajar, orang tua peserta didik, peserta didik PAUD Anak Bangsa, dan undangan. Kepala UPTD SKB Kota Palopo dalam sambuatnnya mengharapakan kepada seluruh pendidik untuk lebih meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya agar stimulasi dan pendidikan yang diberikan kepada anak didik sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak didik.
Selanjutnya Kepala Dinas Pendidikan Kota Palopo dalam arahannya menyampaikan arti penting Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam tahapan perkembangan usia anak dan pengaruhnya terhadap tumbuh kembang anak. Kadis Pendidikan sangat mengharapak kepada seluruh masyarakat setempat untuk menyadari dan berperan aktif dalam proses perkembangan anak usia dini. Usia 0 – 6 tahun merupakan usia emas dimana stimulasi yang diberikan akan sangat berpengaruh kepada karakter dan prilaku anak dimasa yang akan datang. Mengakhiri sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Kota Palopo menyampaikan apresiasi yang begitu besar kepada seluruh masyarakat yang berpartsisipasi dalam program PAUD ini terkhusus kepada pemerintah setempat yang telah turut berperan aktif dalam kelancaran penyelenggaraan program PAUD Anak Bangsa. Dan juga beliau kembali menitipkan harapan kepada seluruh masyarakat dan pemerintah untuk terus membantu Dinas Pendidikan untuk mensosialisasikan program-program Pendidikan Non Formal (PNF) di masyarakat.
Penulis ; Hasruddin, S.Pd
Penulis ; Hasruddin, S.Pd
Cerdas Optimal Berkat Stimulasi Dini
"Stimulasi pada masa kecil dapat mempengaruhi kemampuan pengetahuan anak dalam mengembangkan aktivitas berpikir mengenai segala sesuatu yang diserap melalui panca indera. "Stimulasi akan menjadikan sel-sel otak menjadi bercabang-cabang. Ini menunjukkan fungsi berpikir otak lebih maksimal," ujar seorang psikiater, dr Caroline MSc SpKj, di Jayapura,"
Stimulasi pada masa kecil dapat mempengaruhi kemampuan pengetahuan anak dalam mengembangkan aktivitas berpikir mengenai segala sesuatu yang diserap melalui panca indera. "Stimulasi akan menjadikan sel-sel otak menjadi bercabang-cabang. Ini menunjukkan fungsi berpikir otak lebih maksimal," ujar seorang psikiater, dr Caroline MSc SpKj, di Jayapura, Sabtu (10/10). Ia menjelaskan, fase paling peka dalam pembentukan otak sebagai wadah kognitif atau yang biasa dikenal dengan "golden age" adalah usia satu hingga lima tahun, selain pada saat anak masih di dalam kandungan.
Stimulasi pada periode usia tersebut sangat mempengaruhi luas dan besarnya wadah pengetahuan sehingga menjadikan seseorang memiliki kemampuan berpikir yang luar biasa. Namun, sebaliknya jika wadah pengetahuan tidak pernah mendapat rangsangan, akan menjadi sempit dan kecil sehingga membentuk seorang individu memiliki kemampuan berpikir yang terbatas.
"Stimulasi pada anak dapat diberikan mulai dari dalam kandungan guna merangsang panca inderanya dalam menerima beragam fakta dari luar yang diberikan orang tua," ujarnya. Saat sekarang, menurut dr Caroline, dapat memberikan stimulasi dengan berbagai macam cara baik secara alamiah maupun direkayasa. Prinsipnya adalah informasi yang diberikan sebagai rangsangan tersebut haruslah bersifat kaya atau variatif dan memberi efek positif.
Stimulasi secara alamiah dapat dilakukan anak dengan sendirinya ketika yang bersangkutan mulai belajar segala sesuatu dari awal. Misalnya belajar berjalan, makan, atau mencoba menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya.
Adapun stimulasi lainnya dapat direkayasa dengan memberikan rangsangan pada setiap inderanya. Misalnya, merangsang penglihatan dengan memberikan warna yang cerah dan terang di dalam kamar tidur atau pada mainannya. Sementara itu, untuk merangsang pendengaran, dapat diberikan bunyi-bunyian berupa musik sejak bayi di dalam kandungan hingga tumbuh menjadi anak.
"Dalam pemilihan musik, sebaiknya orang tua lebih bijak karena musik bisa mempengaruhi IQ serta pembentukan karakter anak. Ada baiknya sejak masih di dalam kandungan anak sudah diperkenalkan dengan musik klasik, sebab itu lebih baik," jelas Caroline. Sedangkan untuk indera perabaan, kain yang mempunyai tingkat kekasaran atau kelembutan yang bervariasi dapat dijadikan media stimulasi. Semua stimulasi tersebut dapat mengembangkan dan memperluas otak anak sebagai wadah kognitif bagi mereka sehingga dapat tumbuh menjadi individu yang cerdas.
"Peran orang tua sangat menentukan dalam tumbuh kembang anak. Selain itu, agar anak tidak hanya cerdas dalam hal pengetahuan, pendidikan agama dan moral juga harus distimulus sedari dini," katanya.
Sumber: http://www.pnfi.depdiknas.go.id/ 15 Juni 2010
Penulis: Hasruddin, S.Pd
Stimulasi pada periode usia tersebut sangat mempengaruhi luas dan besarnya wadah pengetahuan sehingga menjadikan seseorang memiliki kemampuan berpikir yang luar biasa. Namun, sebaliknya jika wadah pengetahuan tidak pernah mendapat rangsangan, akan menjadi sempit dan kecil sehingga membentuk seorang individu memiliki kemampuan berpikir yang terbatas.
"Stimulasi pada anak dapat diberikan mulai dari dalam kandungan guna merangsang panca inderanya dalam menerima beragam fakta dari luar yang diberikan orang tua," ujarnya. Saat sekarang, menurut dr Caroline, dapat memberikan stimulasi dengan berbagai macam cara baik secara alamiah maupun direkayasa. Prinsipnya adalah informasi yang diberikan sebagai rangsangan tersebut haruslah bersifat kaya atau variatif dan memberi efek positif.
Stimulasi secara alamiah dapat dilakukan anak dengan sendirinya ketika yang bersangkutan mulai belajar segala sesuatu dari awal. Misalnya belajar berjalan, makan, atau mencoba menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya.
Adapun stimulasi lainnya dapat direkayasa dengan memberikan rangsangan pada setiap inderanya. Misalnya, merangsang penglihatan dengan memberikan warna yang cerah dan terang di dalam kamar tidur atau pada mainannya. Sementara itu, untuk merangsang pendengaran, dapat diberikan bunyi-bunyian berupa musik sejak bayi di dalam kandungan hingga tumbuh menjadi anak.
"Dalam pemilihan musik, sebaiknya orang tua lebih bijak karena musik bisa mempengaruhi IQ serta pembentukan karakter anak. Ada baiknya sejak masih di dalam kandungan anak sudah diperkenalkan dengan musik klasik, sebab itu lebih baik," jelas Caroline. Sedangkan untuk indera perabaan, kain yang mempunyai tingkat kekasaran atau kelembutan yang bervariasi dapat dijadikan media stimulasi. Semua stimulasi tersebut dapat mengembangkan dan memperluas otak anak sebagai wadah kognitif bagi mereka sehingga dapat tumbuh menjadi individu yang cerdas.
"Peran orang tua sangat menentukan dalam tumbuh kembang anak. Selain itu, agar anak tidak hanya cerdas dalam hal pengetahuan, pendidikan agama dan moral juga harus distimulus sedari dini," katanya.
Sumber: http://www.pnfi.depdiknas.go.id/ 15 Juni 2010
Penulis: Hasruddin, S.Pd
Program PAUD dan SPS
Tahun 2010 ini, UPTD SKB Kota Palopo mencoba mengusulkan beberapa program PAUD dan SPS ke BPPNFI Reg. V Makassar. Seiring dengan perubahan pucuk pimpinan di UPTD SKB Kota Palopo, maka srategi kebijakan juga mengalami perubahan. Salah satu strategi yang dilakukan adalah dengan mengarahkan Program PAUD dan SPS tersebut kepada daerah-daerah yang selama ini belum pernah terakses sama sekali dengan program tersebut, dengan asumsi bahwa didaerah perkotaan sudah banyak program PAUD yang berjalanDaerah yang dimaksud adalah di Kelurahan Pentojangan dan Kelurahan Salubattang Kecamatan Telluwanua, Kecamatan ini adalah kecamatan perbatasan antara Kota Palopo dengan Kabupaten Luwu. Program PAUD dikonsentrasikan di Kelurahan Salubattang dan hingga berita ini dibut telah berjalan, dengan peserta didik 50 orang, dan tutor dua orang. Tutor yang dilibatkan dalam kegiatan ini adalah masyarakat sekitar yang memiliki potensi dan kemauan untuk mengelola dan melaksanakan pembelajaran PAUD meski dengan biaya swadana masyarakat. Antusias warga terhadap program ini terlihat sangat baik, hal ini terlihat dari tingkat partisipasi masyarakat untuk membelajarkan anaknya dalam program ini meski dengan biaya swadana.
Untuk program SPS dikonsentrasikan Kelurahan Pentojangan dengan jumlah warga belajar 40 orang. Program ini dikerjasamakan dengan dua Posyandu yakni posyandu "Beruang" dan posyandu "Landak". . Program ini diharapkan dapat berjalan karena tingkat partisipasi masyarakat begitu tinggi termasuk dukungan Pemerintah setempat yang sangat baik. Dukungan pemerintah setempat terlihat saat kegiatan sosialisasi antara UPTD SKB Kota Palopo dengan masyarakat, Lurah Pentojangan turut hadir sekaligus memberikan arahan kepada masyarakat untuk menyambut secara baik program ini, karena hal ini sangat memberi pengaruh positif terhadap tingkat pendidian anak di keluraha Pentojangan.
Penulis; Hasruddin, S.Pd
Untuk program SPS dikonsentrasikan Kelurahan Pentojangan dengan jumlah warga belajar 40 orang. Program ini dikerjasamakan dengan dua Posyandu yakni posyandu "Beruang" dan posyandu "Landak". . Program ini diharapkan dapat berjalan karena tingkat partisipasi masyarakat begitu tinggi termasuk dukungan Pemerintah setempat yang sangat baik. Dukungan pemerintah setempat terlihat saat kegiatan sosialisasi antara UPTD SKB Kota Palopo dengan masyarakat, Lurah Pentojangan turut hadir sekaligus memberikan arahan kepada masyarakat untuk menyambut secara baik program ini, karena hal ini sangat memberi pengaruh positif terhadap tingkat pendidian anak di keluraha Pentojangan.
Penulis; Hasruddin, S.Pd
Langganan:
Postingan (RSS)


